Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

November 7, 2018 0 By rois

Oleh : Putri Syifani

Jarum jam menunjukan pukul 08.00 WIB. Sang surya mulai menyemburatkan sinar gemulainya. Meninggalkan jejak butiran hujan semalam dengan bau khas petrikor yang masih menyengat, mengiringi suara ketukan Azela menuju kantor guru. ‘’Assalamu’alaikum bu Nila, ini bu tugas kimia nya sudah selesai.” Kata Azela. ”Wa’alaikumsalam Zela, oh ya taruh saja di atas meja ibu, eh ya ibu minta tolong berikan tugas ini ke kelas XII MIPA 1 ya, terimakasih”, Pinta bu Nila. ‘’ eh maaf bu kelas XII kan pindah di gedung baru, saya tidak tahu kelasnya ‘’, Azela. “Oh gampang kok nyarinya, di gedung baru kamu naik ke lantai dua bagian utara, terus lurus aja mentok di samping ruang bahasa, nah itu kelasnya”, papar bu Nila. “Oh di lantai dua gedung baru ya bu, terima kasih bu permisi”, Azela. Azela pun bergegas melangkahkan kaki menuju gedung baru lantai dua di mana kelas XII MIPA 1 berada. Tiba-tiba bruuk… Azela menabrak seorang laki-laki bertubuh tegap “Aduuh..” Azela menatap pemilik wajah yang menabraknya. “Masyaallah, ternyata gus Alkil yang aku tabrak, gimana ini”, batin Azela. “Eh eh, maaf maaf, nggak sengaja, bukannya kamu anak kelas sebelas ya, kok bisa sampai di sini”, Alkil. “Oh tadi saya di suruh bu Nila mengasih tugas ini ke kelas XII MIPA 1, tapi saya belum tahu kelasnya”, jawab Azela dengan gemetar. “Oh kasih aja ke aku, aku anak kelas XII MIPA 1”, Alkil. “oh gitu ya kak ini tugasnya”, Azela (menunduk tak berani menatap wajah gus Alkil). “ok, eh tunggu sebentar nama kamu siapa?”, Alkil. “nama saya Azela kak, permisi”, pamit Azela. ’Cantik juga namanya, persis kayak orangnya’ batin Alkil. Setelah sampai di kelas Azela berjalan menuju bangkunya untuk kembali mendengarkan penjelasan sang guru yang sempat tertunda tadi, namun pikirannya melayang-layang dan tidak bisa fokus kepada pelajaran yang sedang dijelaskan. ‘ Ya Allah kenapa sih kok aku malah kepikiran sama gus Alkil terus gara-gara kejadian tadi, jantungku juga maraton nggak jelas kayak gini. Perasaan apa ini ya Allah?’, batin Azela. Selepas pulang sekolah gus Alkil merebahkan king size nya. “Azela, nama yang cukup unik, mirip seperti orangnya, cantik dan bermata sipit sepertinya dia satri wati di Pondok pesantren ini, namun kenapa hatiku selalu berdesir jika hanya melihat wajahnya? Apakah aku sedang dirundung gejolak asmara?”, ceklek, pintu kamar terbuka menampakkan sosok wajah yang kharismatik. “Alkil, nanti kamu yang badali abah ngaos dulu ya, abah nanti malam mau ada acara ngisi pengajian di Temanggung, kitabnya Fathul Wahab, kamu pasti bisa.” Perintah sang kiyai Asyiq. “nggeh bah.” “Jangan lupa lho kil.” Pintu kembali tertutup menyisakan gus Alkil yang sudah duduk bersandarkan kepala ranjang “Astaghfirullah,apa yang telah aku pikirkan tadi, semoga saja ini hanya perasaan singkat yang tak kan pernah ada artinya.” Guman gus Alkil. Teet..tet.. bel waktunya ngaos abah dalu telah menjerit, santriwan dan santriwati di pondok pesantren Aflahul Ulum mulai pun bergegas menuju aulay yang dipergunakan untuk kegiatan ngaos. Namun, ada yang berbeda dengan kali ini, aula yangdi tempati oleh santriwati tampak begitu ramai. Arti keramaian itu tak sedikitpun ditangkap oleh santriwati pemilik kerudung merah yang berada di shaff paling depan, ya dia Azela. Ia bahkan bingung dengan kegaduhan di aula itu, ia pun bertanya kpada sahabat yang berada di sampingnya. “ehhh Zul, ada apa sih ini, para santri puteri kok pada heboh banget?” tanya Azela. “Ya Allah Zela hal sepentig ini kamu belum tahu, aku kasih tahu ya, nanti itu yang ngucal ngaos bukan abah Asyiq, tapi gus Alkil puteranya” ucap Zulfa. Deg ”gus Alkil?” tanya Azela “ ya itu loh puteranya abah Asyiq yang paling bungsu, yang ganteng, pinter kitab, hafidz lagi udah gitu, ditambah gayanya coll lag, masa kamu nggak tahu sih Zel, keman aja kamu?” ucap Zulfa. “Tahulah, tapi cuman sekilas aja, lagipula nggak penting.”Kamu sih nggak pernah sharing-sharing tentang gus Alkil, awas aja kalau kamu kesemsem sama gus Alkil, kamu kudu wajib nraktir aku sepuasnya dikantin.”,tantang Zulfa.”Coba aja, aku nggak bakalan suka sama gus yang sok cool itu.”jawab Azela.”Eh awas ya, eh itu itu gus Alkilnya udah dateng, sssttttt…”, Zulfa.”Assalamu’alaikum wr.wb” “Wa’alaikumussalam wr wb, jawab serempak para santri. Disaat gus Alkil mengedarkan pandangannya ke arah santri putri, ia menjumpai sosok perempuan berkerudung merah yang seharian ini berputar dikepalanya. “Lo bukannya itu Azela ya, subhanallaah cantik sekali, ternyata benar dugaanku dia adalah santriwati diponpes ini, tapi kenapa kok tiba-tiba aku jadi grogi gini ya padahal tadi biasa-biasa aja deh, Bismillah..(batin Gus Alkil).”Subhanallah, ternyata gus Alkil tampan sekali dan terlihat gagah, kok aku baru tahu sekarang ya, waduuh kenapa lagi nih jantungku.”(Azela memegang dadanya). Ngaos yang dibadali gus Alkil berjalan dengan lancar, dan terlihat tidak ada kesalahan sehingga para santri terlihat sangat memahami dengan apa yang dijabarkan oleh gus Alkil.”Wallahua’lam bisshowab, wassalamu’alaikum wr.wb.”akhiri gus Alkil “Wa’alaikumussalam wr.wb.”

Tak terasa waktu merambat begitu cepat, siswa-siswi kelas XII telah melaksansakan ujian nasional dengan lancar. Begitu juga dengan perasaan yang dimiliki masing-masing insan, gus Alkil dan Azela. Perasaan yang dikira mereka hanya sebuah perasaan singkat yang bisa sirna kapanpun, ternyata malah semakin kuat dan menggunung subur membuat mereka tak bisa terus-menerus memendam perasaan yang akan membuat mereka merasakan sakit. Azela pun menyadari perasaannya telah tumbuh subur kepada gus Alkil. Namun ia takut untuk mengungkapkannya karena ia merasa tak pantas untuk bersanding dengan seorang gus, lain halnya dengan gus Alkil, ia malah semakin mantap untuk mengungkapkan perasaannya kepada sang pujaan hati, Azela. Ia berencana mengungkapkan perasaannya lewat surat sebelum keberangkatannya ke Al-Azhar, Cairo. Malam harinya dengan ditemani secangkir kopi, gus Alkil menulis surat singkat yang isinya “Teruntuk Azela yang terkasih, maaf jika lancang, sebenarnya sudah lama diriku memendam rasa yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata kepadamu, semakin hari rasa ini semakin sulit dikendalikan. Jika anti mempunyai perasaan yang sama kepadaku, tolong balas surat ini sebelum keberangkatanku. Jika memang harapanku sesuai aku berjanji selepasku menyelesaikan kuliahku diCairo, aku akan segera menikahimu. Tolong jaga cinta suci ini, tetanda gus Alkil.” Keesokan harinya, pagi-pagi sekali gus Alkil menyelipkan suratnya kebuku paket milik Azela yang berada ddidalam laci bangkunya. Disaat pelajaran akan dimulai, Azela mengeluarkan buku paket yang akan menjadi mapel hari itu, tiba-tiba secarik kertas jatuh dari buku paketnya. Diambil dan dibukanya surat dari gus Alkil itu kemudian dibacanya. Azela tak menyangka ternyata perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Dibalaslah surat tersebut “Teruntuk gus Alkil, sampai saat ini aku tak menyangka jika selama ini perasaan lancang yang datang mendiami hati ini ternyata terbalas, aku merasa tak pantas mempunyai perasaan ini terhadap seorang gus. Maaf, namun aku berjanji gus, aku akan menjaga cinta suci ini sampai ada kata halal diantara kita. Tertanda Azela.” Setelah menulis surat tersebut, Azela menitipkan surat itu keteman sekelasnya yang juga menjadi sahabat gus Alkil. Sore harinya, disaat gus Alkil akan menaiki mobil menuju bandara, surat itu telah sampai ditangan gus Alkil, dibukanya surat itu dan dibacanya, seketika terbit seulas senyuman dibibir gus Alkil. Gus Alkil juga tak menyangka ternyata perasaan yang mati-matian ia pendam terbalas juga. Dengan diiringi hati tenang dan gemericik asmara, gus Alkil melangkah pasti tuk meraih cita-cita menuju Al-Azhar, Cairo.

Tahun demi tahun berjalan, 5 tahun tak terasa gus Alkil telah menyelesaikan pendidikannya di Mesir. Kabar akan kepulangannya telah terdengar diseluruh penjuru ponpes Aflahul Ulum. Semua santri begitu antusias menunggu kepulangannya. Begitupun Azela, ia telah menyiapkan kado khusus untuk sang pujaan hati. Dimalam harinya saat ia asyik membungkus kado,tiba-tiba ia mendapat telepon dari rumahnya, ibunya menyuruhnya pulang karena ayahnya mengalami serangan jantung dan sekarang telah dirawat di rumah sakit, keesokan harinyaAzela langsung pulang menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Setelah sampai diruangan ayahnya, Azela disuguhi yang membuat dadanya sesak, ayahnya terbaring lemah dengan bantuan selang-selang yang membuatnya terus hidup. Melihat ibu, kakak, dan saudaranya telah berkumpul diruangan itu, membuat air matanya semakin mencucur deras. Didekatinya sang ayah “Yah, ini princess ayah”panggil Zela. Ayahnya tersenyum dan menggenggam tangan mungil sang putri. “Zela, putri ayah ternyata sudah besar ya nak, kamu mau kan mengabulkan permintaan terakhir ayah?”, mendengar panuturan itu air mata Azela semakin membanjiri wajah cantiknya. Sembari mengangguk Azela mengiyakannya. “Permintaan ayah, ayah ingin menjabat tangan calon imam putri ayah satu-satunya ini, kamu mau kan Zela?”, Zela sangat kaget atas permintaan sang ayah. Namun, mau bagaimanapun lagi itu adalah permintaan terakhir sang ayah. Seketika sekelebat bayangan wajah gus Alkil mampir dikepalanya, hatinya dilema tapi ia tetap menganggukkan kepalanya mengiykan permintaan ayahnya. Ceklek, suara pintu dibuka menampilkan sosok pemuda beriris mata hitam legam dengan rahang tegas berpakaian jas putih dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. “itulah calon suamimu dek, dia adalah seorang dokter dan mahasiswa kesayangan ayah, namanya Faruq” ucap kakak Azela. “Dia adalah adik kelas kakak waktu zaman SMP dulu, dia juga sahabat dari putra kiyaimu itu, Roba”. “Masyaallah kejutan apa lagi ini kenapa yang menjadi calon suami ku adalah sahabat dari gus Roba sendiri” batin Azela. Saat itu juga akad pernikahan pun dilaksanakan dengan sederhana di ruangan ayahnya, dan tepat setelah akad itu di laksanakan ayah Azela menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya. “innalillahi wainna ilaihi roji’un”, serempak orang yang berada di ruangan tersebut. Kring… hp Azela kembali berdering menampilkan nama dari pondok pesantrennya, dahinya mengernyit ‘ada apa’ batinnya. Ternyata dia mendengar dari pengurus pondok pesantrennya, bahwa pesawat yang ditumpangi oleh gus Alkil mengalami kecelakaan, dan tidak ada yang selamat satu pun dari kejadian naas tersebut. Tubuh Azela luruh ke lantai bersamaan dengan air mata yang mata yang bercucuran. “Ya Allah ternyata, ini adalah alasan kenapa engkau tak mengijinkanku bersamanya. Engkau tak mengijinkan bersamanya. Engkau tak ingin aku bersedih terlarut dengan kesendirian, engkau telah memberi aku ganti yang lebih baik darinya, skenariomu begitu indah meskipun dengan jalan yang sangat rumit, aku mengikhlaskan semuanya. Terima kasih ya Allah.

*Penulis adalah siswi kelas X MIPA 2